Sejarah sastra adalah ilmu yang memperlihatkan perkembangan karya sastra dari waktu ke waktu. Sejarah sastra bagian dari ilmu sastra yaitu ilmu yang mempelajari tentang sastra dengan berbagai permasalahannya. Di dalamnya tercakup teori sastra, sejarah sastra dan kritik sastra, dimana ketiga hal tersebut saling berkaitan.
Selanjutnya (Todorov; 1985: 61) mengatakan bahwa tugas sejarah sastra adalah:
- meneliti keragaman setiap kategori sastra.
- meneliti jenis karya sastra baik secara diakronis, maupun secara sinkronis.
- menentukan kaidah keragaman peralihan sastra dari satu masa ke masa berikutnya.
Periodisasi Sastra Indonesia
Ada beberapa pendapat tentang periodisasi sastra Indonesia, saya mengambil dua diantaranya :
- Menurut Nugroho Notosusanto
a. Kesusastraan Melayu Lama
b. Kesusastraan Indonesia Modern
1). Zaman Kebangkitan : Periode 1920, 1933, 1942, 1945
2). Zaman Perkembangan : Periode 1945, 1950 sampai sekarang
- Menurut Simomangkir Simanjuntak
a. Kesusastraan masa lama/ purba : sebelum datangnya pengaruh hindu
b. Kesusastraan Masa Hindu/ Arab : mulai adanya pengaruh hindu sampai dengan kedatangan agama Islam
c. Kesusastraan Masa Islam
d. Kesusastraan Masa Baru
1). Kesusastraan Masa Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi
2). Masa Balai Pustaka
3). Masa Pujangga Baru
4). Kesusastraan Masa Mutakhir : 1942 hingga sekarang.
Sejarah Sastra Indonesia
Kepulauan Nusantara yang terletak diantara benua Asia dan Australia dan diantara Samudra Hindia/ Indonesia dengan Samudra Pasifik/ Lautan Teduh, dihuni oleh beratus-ratus suku bangsa yang masing-masing mempunyai sejarah, kebudayaan, adat istiadat dan bahasa sendiri-sendiri.
Bahasa Indonesia berasal dari bahasa melayu yaitu salah satu bahasa daerah di Nusantara. Bahasa Melayu digunakan oleh masyarakat Melayu yang berada di pantai timur pulau Sumatera.
-Kerajaan Melayu yang berpusat didaerah Jambi, pada pertengahan abad ke-7 (689-692) dikuasai oleh Sriwijaya yang beribu kota di daerah Palembang sekarang ini,-
- Kesusastraan Melayu Klasik
Sastra Melayu Klasik tidak dapat digolongkan berdasarkan jangka waktu tertentu karena hasil karyanya tidak memperlihatkan waktu. Semua karya berupa milik bersama. Karena itu, penggolongan biasanya berdasarkan atas : bentuk, isi, dan pengaruh asing.
a. Kesusastraan Rakyat (Kesusastraan Melayu Asli)
Kesusastraan rakyat/ Kesusastraan melayu asli, hidup ditengah-tengah masyarakat. Cerita itu diturunkan dari orang tua kapada anaknya, dari nenek mamak kepada cucunya, dari pencerita kepada pendengar. Penceritaan ii dikenal sebagai sastra lisan (oral literature).
Kesusastraan yang tumbuh tidak terlepas dari kebudayaan yang ada pada waktu itu. Pada masa Purba (sebelum kedatangan agama Hindu, Budha dan Islam) kepercayan yang dianut masyarakat adalah animisme dan dinamisme. Karena itu, cerita mereka berhubungan dengan kepercayaan kepada roh-roh halus dan kekuatan gaib yang dimilikinya. Misalnya :
- Cerita asal-usul
- Cerita binatang
- Cerita Jenaka
- Cerita Pelipur lara.
Contoh
Mantra Memasuki hutan rimba
Hai, si Gempar Alam
Gegap gempita
Jarum besi akan romaku
Ular tembaga akan romaku
Ular bisa akan janggutku
Buaya akar tongkat mulutku
Harimau menderam di pengeriku
Gajah mendering bunyi suaraku
Suaraku seperti bunyi halilintar
Bibir terkatup, gigi terkunci
Jikalau bergerak bumi dan langit
Bergeraklah hati engkau
Hendak marah atau hendak
membiasakan aku.
b. Pengaruh Hindu dalam Kesusastraan Melayu
Pengaruh Hindu Budha di Nusantara sudah sejak lama. Menurut J.C. Leur (Yock Fang : 1991:50) yang menyebarkan agama Hindu di Melayu adalah para Brahmana. Mereka diundang oleh raja untuk meresmikan yang menjadi ksatria. Kemudian dengan munculnya agama Budha di India maka pengaruh India terhadap bangsa Melayu semakin besar. Apalagi agama Budha tidak mengenal kasta, sehingga mudah beradaptasi dengan masyarakat Melayu.
- Epos India dalam kesusastraan Melayu
· Ramayana : cerita Ramayana sudah dikenal lama di Nusantara. Pada zaman pemerintahan Raja Daksa (910-919) cerita rama diperlihatkan di relief-relief Candi Loro Jonggrang. Pada tahun 925 seorang penyair telah menyalin cerita Rama ke dalam bentuk puisi Jawa yaitu Kakawin Ramayana. Lima ratus tahun kemudian cerita Rama dipahat lagi sebagai relief Candi Penataran. Dalam bahasa melayu cerita Rama dikenal dengan nama Hikayat Sri Rama yang terdiri atas 2 versi : 1) Roorda van Eysinga (1843) dan W.G. Shelabear.
· Mahabarata : Bukan hanya sekedar epos tetapi sudah menjadi kitab suci agama Hindu. Dalam sastra melayu Mahabarata dikenal dengan nama Hikayat Pandawa. Dalam sastra jawa pengaruh Mahabarata paling tampak dari cerita wayang.
c. Kesusastraan Zaman Peralihan Hindu-Islam, dan pengaruh Islam
Sastra zaman peralihan adalah sastra yang lahir dari pertemuan sastra yang berunsur Hindu dengan sastra yang berunsur Islam di dalamnya. Contoh karya-karya sastra yang masuk dalam masa ini adalah ; Hikayat Puspa raja, Hikayat Parung Punting, Hikayat Lang-lang Buana, dsb.
Sastra pengaruh Islam adalah karya sastra yang isinya tentang ajaran agama Islam yang harus dilakukan oleh penganut agama Islam. Contoh karya : Hikayat Nur Muhammad, Hikayat Bulan Berbelah, Hikayat Iskandar Zulkarnaen dsb.
-Perkembangan agama Islam yang pesat di Nusantara sebenarnya bertalian dengan perkembangan Islam di dunia. Pada tahun 1198 M. Gujarat ditaklukkan oleh Islam. Melalui Perdagangan oleh bangsa Gujarat, Islam berkembang jauh sampai ke wilayah Nusantara. Pada permulaan abad ke-13 Islam berkembang pesat di Nusantara.-
-Pada abad ke-16 dan ke-17 kerajaan-kerajaan di Nusantara satu persatu menjadi wilayah jajahan bangsa-bangsa Eropa yang pada mulanya datang ke Nusantara karena mau memiliki rempah-rempah.-
d. Kesusastraan Masa Peralihan : Perkembangan dari Melayu Klasik ke Melayu Modern
Pada masa ini perkembangan antara kesusastraan Melayu Klasik dan kesusastraan Melayu Modern peralihannya dilihat dari sudut isi dan bahasa yang digunakan oleh pengarangnya. Dua orang tokoh yang dikenal dalam masa peralihan ini adalah Raja Ali Haji dari pulau Penyengat, Kepulauan Riau, dan Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi dari Malaka.
Contoh karya Abdullah : Hikayat Abdullah, Syair Singapura dimakan Api, ia juga menerjemahkan Injil ke dalam bahasa melayu.
Contoh Gurindam Raja Ali Haji
Gurindam pasal pertama
Barang siapa tidak memegang agama
Sekali-kali tidakkan boleh di bilangkan nama
Barang siapa mengenal yang empat
Ia itulah orang yang makrifat
Barang siapa mengenal Allah
Suruh dan tengahnya tiada ia menyalah
Barang siapa mengenal dunia
tahulah ia barang yang terperdaya
Barang siapa mengenal akhirat
Tahulah ia dunia mudarat
Kurang fikir, kurang siasat
Tinta dirimu kelah tersesat
Fikir dahulu sebelum berkata
Supaya terlelah selang sengketa
Kalau mulut tajam dan kasar
Boleh ditimpa bahaya besar
Jika ilmu tiada sempurna
Tiada berapa ia berguna.-
- Kesusastraan Indonesia Modern
Lahirnya Kesusastraan Indonesia Modern
Jika menggunakan analogi ¨Sastra ada setelah bahasa ada¨ maka kesusastraan Indonesia baru ada mulai tahun 1928. Karena nama ¨bahasa Indonesia¨ secara politis baru ada setelah bahasa Melayu di diikrarkan sebagai bahasa persatuan pada tanggal 28 Oktober 1928 yang dikenal dengan Sumpah Pemuda.
Namun menurut Ayip Rosidi dan A. Teeuw, Kesusastraan Indonesia Modern ditandai dengan rasa kebangsaan pada karya sastra. Contohnya seperti : Moh. Yamin, Sanusi Pane, Muh. Hatta yang mengumumkan sajak-sajak mereka pada majalah Yong Sumatera sebelum tahun 1928.
a. Masa Kebangkitan (1920-1945)
1). Periode 1920 (Angkatan Balai Pustaka)
Contoh : Puisi M. Yamin
Bahasa, Bangsa
Selagi kecil usia muda
Tidur si anak di pangkuan bunda
Ibu bernyanyi lagu dan dendang
memuji si anak banyaknya sedang
berbuai sayang malam dan siang
buaian tergantung di tanah moyang
....
1922
2). Periode 1933 (Angkatan Pujangga Baru)
Penamaan periode ini di dasarkan pada munculnya majalah ¨Pujangga Baru¨ yang dikelola oleh S.T. Alisyahbana, Armin Pane dan Amir Hamzah.
Contoh : Puisi Amir Hamzah
Datanglah engkau wahai maut
Lepaskan aku dari nestapa
Engkau lagi tempatku berpaut
Diwaktu ini gelap gulita
(Buah Rindu II)
3). Periode 1942 (Angkatan 45)
Chairil Anwar pelopor angkatan 45, nama lain pada masa ini seperti Idrus, Mochtar Lubis dan Pramoedya A T.
Contoh Sajak Chairil :
Awas jangan bikin beta marah
Beta bikin pala mati
Beta kirim datudatu!
Beta Pattirajaaawane, penjaga hutan pala
Beta api dipantai. Siapa mendekat
Tiga kali menyebut beta punya nama.
b. Masa Perkembangan (1945 – sekarang)
1). Periode 1945 (Angkatan 45 : 1942-1953)
2). Periode 1950 (Angkatan 50 dimulai tahun 1953)
Dimasa ini ada Nugroho Notosusanto pengarang Hujan Kepagian, AA Navis pengarang Robohnya Surau Kami, Trisnoyuwono pengarang laki-laki dan mesiu, penyair Toto Sudarto Bachtiar, WS Rendra (juga ada yang menggolongkan ke angkatan 70)
3). Angkatan 66
Pada tanggal 6-9 Mei 1966 Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia bersama dengan KAMI dan KAPPI menyelenggarakan simposium berjudul : ¨Kebangkitan semangat 1966 : Menjelajah Tracee Baru Lekra dan Neolekranisme¨. Dominasi kebudayaan oleh politik, tegas-tegas ditolak. Inilah mulai dinamakannya angkatan 66. Dari kelompok ini, majalah bulanan baru, Horison, segera terbit sebagai suara sastranya.
4), Angkatan 70
Tahun 1970-1990 ada beberapa sastrawan yang terkenal misalnya : Sutardji Calzoum Bachri, Abdul Hadi W.M., Putu Wijaya
Contoh Sajak Abdul Hadi WM : Tawangmangu
kalau kehijauan yang bangkit dari bukti-bukti
dan air terjun, dimana aku pernah lewat dan menghirup
kesegaran pagi dan kuntum melur, sekarang aku batu
yang kau angkat dari tepi sungai dan kaubiarkan abadi
seperti nyawa sekarat mengeliat, mengeliat mungkin kau
sedang menghiasku dengan retakan-retakan air hujan
dan keharuan waktu yang beragam
(dalam Tergantung pada Angin)
Karya sastra adalah hasil kerja sastrawan, tidak begitu saja jatuh dari langit. Sastrawan adalah manusia, anggota masyarakat yang menyadari perlunya berkomunikasi dengan manusia lain; dengan demikian sastra memerlukan pembaca. Di dalamnya, sastrawan berusaha menciptakan dunia rekaan berdasarkan kemampuan daya khayalnya. Dunia rekaan itu tentu saja harus bisa dikenal pembaca, sebab jika tidak, komunikasi tidak akan berlangsung. Pembaca, seperti halnya sastrawan, adalah juga manusia, anggota masyarakat yang tentunya juga menyadari pentingnya berkomunikasi. Di dalam proses komunikasi semacam itu sastrawan adalah pengirim pesan, sedangkan pembaca adalah penerima pesan. Karya sastra adalah pesan itu, yakni dunia rekaan yang isinya harus dikenal baik oleh sastrawan dan masih bisa dikenal pembaca agar komunikasi bisa berlangsung.
Dalam proses tersebut tampaknya pembaca adalah penerima yang pasif sedangkan sastrawan pengirim pesan yang aktif; kenyataannya tidaklah demikian. Karya sastra modern, yang tertulis, pada dasarnya merupakan susunan huruf, kata, kalimat, dan alinea yang bisa menjelma dunia hanya jika pembaca secara aktif menafsirkannya; ia menjadi "sastra" dan menjelma sebuah dunia hanya jika diciptakan kembali oleh pembaca. Jika tidak, ia mungkin merupakan kertas bertulisan yang bisa saja menjadi bungkus kacang. Ada atau tidaknya karya sastra sama sekali bergantung pada pembaca yang menjadi juru tafsir, dan dalam hal ini tentu saja sastrawan bisa juga menjadi pembaca karyanya sendiri. Dalam proses menafsirkan itulah sebenarnya terjadi komunikasi langsung antara karya sastra dan pembaca, atau komunikasi tak langsung antara sastrawan dan pembaca.
Sebagai manusia, sastrawan tidak bisa melepaskan diri dari dunia tempatnya berpijak. Ia adalah bagian tak terpisahkan dari gagasan, tindak-tanduk, dan benda-bendaââ¬âyakni kebudayaanââ¬âyang dihasilkan manusia; ia pun ikut menghasilkan itu semua. Jadi, sastrawan adalah bagian kebudayaan dan sekaligus ikut menghasilkan kebudayaan. Tentu saja karya yang diciptakannya, yakni sastra, adalah dunia yang tak bisa dipisahkan dari kebudayaannya. Sastra adalah dunia rekaan yang berpijak pada gagasan, tata nilai, dan kaidah yang telah membentuk dan sekaligus dibentuk sastrawan sebagai anggota masyarakat. Dalam hal ini, "berpijak" tentunya tidak berarti "sama dan sebangun"; sastra adalah tanggapan evaluatif terhadap berbagai hal yang berlangsung di dunia nyata ini. Dalam menilai, sastrawan menyodorkan pilihan-pilihan. Itu sebabnya juga sering dikatakan bahwa dunia rekaan adalah alternatif bagi kehidupan kita sehari-hari.
Orang membaca karya sastra karena ia tidak ingin berada di dunia nyata yang satu-satunya ini, dan berusaha melarikan diri ke dunia yang berbeda, yang diciptakan sastrawan. Ini tidak berarti bahwa ia berpindah ke dunia yang lebih nyaman; bisa saja dunia alternatif itu malah "menyiksa"-nya. Bisa saja orang merasa sangat berbahagia di dunia sehari-harinya, namun masuk juga ia ke dunia sastra yang mungkin malah membuatnya menangis, geram, atau penasaran. Orang mendapatkan juga pengalaman di dunia nyata ini, namun dunia sastra, yang diciptakan oleh sastrawan entah sejak kapan, memberinya lebih banyak lagi pilihan pengalaman. Dengan demikian, hakikat keberadaan sastra adalah niat baik pembaca untuk menerima pengalaman yang ditawarkan sastrawan.
Dalam zaman modern ini, dunia alternatif umumnya dikemas dalam bentuk buku. Dengan demikian sastra adalah dunia yang portable, bisa dijinjing ke mana pun dan siap dimasuki sembarang waktu dan tempat. Tidak usah heran jika kita pernah menyaksikan orang membaca novel di bus, pesawat terbang, kereta api, dapur, toilet, atau kamar belajar. Dunia jinjingan itu berisi kebudayaan, yakni gagasan, nilai-nilai, dan kaidah-kaidah yang diciptakan kembali dan sekaligus dievaluasi oleh sastrawan. Tentu saja, seperti halnya benda budaya lain, ada berbagai-bagai jenis sastra. Ada sastra yang menawarkan dunia yang sudah begitu kita kenal sehari-hari dan mengajak kita untuk tetap mencintainya dan sama sekali tidak beranjak darinya; ada yang menantang kita untuk mempertimbangkan kembali segala sesuatu yang selama ini kita yakini dan menggoda kita untuk merombaknya. Itu semua merupakan cerminan kebudayaan yang telah melahirkannya.
Tentu karena kita membutuhkannya maka sastra telah dihasilkan entah sejak kapan. Jika kita mengambil cara pandang ini begitu saja, seolah-olah tidak ada gunanya memperbincangkan arah dan nasib sastra kita di masa datang; apa pun yang terjadi, sastra di mana pun pasti akan dihasilkan. Yang perlu kita bicarakan sekarang adalah mengapa sastra harus ada dan untuk apa pula benda budaya itu ada. Meskipun mungkin saja menjadi terharu atau bahkan menangis ketika membaca karya sastra, kita sepenuhnya menyadari bahwa yang kita hadapi hanyalah gambaran dunia rekaan yang tidak akan mampu menyelesaikan kemelut yang terjadi dalam hidup kita. Ia tidak nyata, sedangkan kesulitan hidup sehari-hari kita ini benar-benar nyata.
Tetapi justru karena sifat rekaannya itulah sastra kita butuhkan. Kita tidak mungkin tinggal terus-menerus di dunia nyata. Agar hidup ini bisa terlaksana dan berlangsung dengan sebaik-baiknya, kita perlu mengadakan perjalanan ulang-alik dari dunia nyata ke dunia rekaan. Setiap harinya kita, yang hidup sebagai anggota masyarakat modern ini, melakukan itu: nonton telenovela atau film seri di televisi; membuat dan mendengarkan folklore, yakni cerita burung mengenai tetangga, kenalan, atau saudara; atau membaca cerita bersambung atau cerita pendek yang dimuat di berbagai media massa. Dunia rekaan ternyata merupakan pasangan dunia nyata. Jika di dunia nyata ini gerak-gerik kita ada rambu-rambunya, ada batas-batas yang sebenarnya kita ciptakan sendiri demi keinginan bermasyarakat, maka di dunia rekaan kita mendapatkan keleluasaan yang memungkinkan kita melewati batas-batas itu.
Di dalam dunia nyata, apa yang terjadi tidak akan bisa diulang lagi. Menurut teori mimesis, di dalam dunia rekaan itu apa yang terjadi di dunia nyata bisa "diulang" lagi; dan dunia "ulangan" itu bisa terus-menerus diulang-ulang setiap kali kita membacanya. Dengan demikian ia merupakan semacam cermin dari segala sesuatu yang menimpa diri kita ini; menghasilkan sastra berarti menyaksikan diri kita sendiri bermain di suatu dunia rekaan. Karena cermin itu meniru apa yang dicerminkannya, maka sastra pada dasarnya dianggap sebagai mimesis. Namun, dalam hal ini mimesis adalah tiruan yang juga memperbaiki kekurangan yang ada pada yang ditiru. Sastra adalah cermin yang istimewa, ia tidak hanya menampilkan diri kita seperti yang ada di dunia nyata, tetapi sekaligus memperbaikinya. Ini berarti sastra juga menampilkan hal yang tidak tampak dalam dunia nyata, hal yang tidak bisa diketahui dalam dunia nyata.
Dengan cara lain bisa dikatakan bahwa sastra merupakan tanggapan evaluatif terhadap kehidupan; sebagai semacam cermin, sastra memantulkan kehidupan setelah menilai dan memperbaikinya. Kita menciptakan sastra sebab membutuhkan citraan rekaan yang bisa mencerminkan hal yang tidak kita ketahui di dunia nyata. Itulah sebabnya, setidaknya menurut Wolfgang Iser,2 sastra tidak tergusur oleh perkembangan filsafat sejarah dan teori sosiologi, yang juga merupakan cermin diri kita, sebab sastra pada dasarnya justru mencerminkan yang tidak ada. Sastra menghadirkan yang tidak hadir, mementaskan yang tidak terpentaskan dalam kenyataan sehari-hari. Pertanyaan yang penting adalah, mengapa gerangan kita menciptakan cara pementasan semacam itu, yang telah bersama kita sepanjang sejarah yang kita catat selama ini?
Jika kita mengikuti jalan pikiran Iser, jawaban terhadap pertanyaan itu tentulah bukan sekedar keinginan untuk mengulang-ulang apa yang ada, tetapi kehendak kuat untuk mendapatkan jalan masuk ke sesuatu yang tidak dapat kita ketahui. Kehendak itulah yang menyebabkan sastra tetap akan kita hasilkan dan tidak bisa digantikan oleh bidang lain apa pun. Dan tentunya buku-buku sastra tetap akan ditulis, dicetak, dan disebarluaskan lewat berbagai-bagai saluran.
Di zaman ini, kita menjumpai begitu banyak dunia jinjingan yang ditawarkan oleh sastrawan-sastrawan kita sendiri maupun asing. Kalau mau, kita bisa masuk ke dunia Sitti Nurbaya, yang diterbitkan tahun 20-an ciptaan Mh. Rusli, seorang Minang; atau ke dunia Para Priyayi yang diciptakan oleh Umar Kayam, seorang Jawa. Dr. Zhivago karya Boris Pasternak, orang Rusia; Malam karya Eli Wiesel, orang Yahudi; Yang Tergusur karya Sally Morgan, orang aborigin Australia; Tukang Kebun karya Rabindranath Tagore, orang India; Senandung Ombak karya Yukio Mishima, orang Jepang; Nyanyian Lawino karya Okot pââ¬â¢Bitek, orang Uganda; Tokoh-tokoh Munafik karya Sionil Jose, orang Filipina; Istri untuk Putraku karya Ali Ghalem dari Aljazair; Nyanyian Ombak karya Yukio Mishima dari Jepang; Lelaki Tua dan Laut karya Hemingway dari Amerika; semua itu beberapa contoh saja dari begitu banyak duniaââ¬âyang mencerminkan kebudayaan, yang berisi pengalamanââ¬âyang siap kita masuki. Dan jika kita bisa menguasai bahasa asing, ada lebih banyak lagi pilihan untuk kita tentu saja.
Moga-moga saja kita masih ingat, dan bersedia mengakui, bahwa umumnya perkenalan pertama kita dengan beberapa segi kebudayaan Rusia tidak melalui sosiologi tetapi lewat cerita pendek dan drama Anton Chehov; perkenalan pertama kita dengan berbagai nuansa masalah sosial, politik, dan budaya Rusia tidak lewat ceramah ilmiah tetapi lewat buku-buku Nikolay Gogol, Leo Tolstoy, dan Boris Pasternak. Dan anehnya, kesan perkenalan pertama itu tidak mudah hilang; mungkin hal itu antara lain disebabkanââ¬âkata orangââ¬â sastra itu memorable, cenderung lekat ke ingatan. Anehnya lagi, karya sastra adalah dunia pengalaman yang bisa dihayati berulang kali, dan setiap kali merupakan pengalaman yang umumnya lebih bernilai, karena kita tentunya sudah menjadi lebih kritis. Kita sepenuhnya tahu bahwa membaca ulang sebuah novel, misalnya, tidak jarang lebih mengasyikkan dibanding membaca novel baru. Novel yang pernah kita baca sewaktu di sekolah menengah tentu memberikan pengalaman yang berbeda dengan ketika kita baca tiga puluh tahun kemudian, ketika kita hampir punya cucu.
Contoh beberapa novel yang saya sebut itu menunjukkan bahwa setidaknya akhir-akhir ini kegiatan menerjemahkan karya sastra asing ke dalam bahasa Indonesia terus dilaksanakan dan tampaknya meningkat. Ini membuktikan bahwa sebagai bangsa, kita mempunyai rasa ingin tahu yang kuat untuk mengenal dan menghayati kebudayaan dan pengalaman bangsa lain. Kita menyadari bahwa dalam zaman komunikasi yang semakin laju ini, tidak ada manfaatnya sama sekali untuk menutup diri dengan hanya mengagumi dan melestarikan kebudayaan dan pengalaman diri sendiri. Untuk bisa bergaul dengan bangsa lain dengan lebih percaya diri, kita perlu mengenal kebudayaan dan pengalamannya. Dan dalam hal ini, sastra adalah semacam jalan pintas.
Saya akan memberikan sekedar contoh. Aljazair adalah sebuah negeri di Afrika Utara yang boleh dikatakan asing bagi kebanyakan kita. Novel Ali Ghalem, Istri untuk Putraku, memberikan gambaran dan uraian yang sangat tajam mengenai beberapa segi kebudayaan dan pengalaman bangsa itu. Lewat novel itu kita bisa mengenal tata cara perkawinan yang sama sekali asing bagi kita. Dalam novel itu juga diungkapkan berbagai masalah sosial dan budaya yang menyangkut masyarakat lapisan bawah; bahkan secara tersirat muncul juga masalah hubungan antara Aljazair dan Perancis, negeri Eropa yang pernah menguasainya. Beberapa adegan dalam novel itu digambarkan begitu tajam sehingga sulit lepas dari ingatan kita, seperti misalnya adegan yang menggambarkan tradisi pemeriksaan keperawanan bagi gadis yang akan nikah. Juga adegan malam pertama pengantin. Dalam karya Ali Ghalem itu kita juga menemukan berbagai segi masalah pendidikan, hak wanita, dan hubungan-hubungan antaranggota keluarga dan antarkeluarga.
Sehabis membaca novel itu, kita merasa seolah-olah tahu sangat banyak mengenai masyarakat suatu negeri yang sebelumnya sama sekali asing. Kita menimbang-nimbang berbagai hal yang sama dan tidak sama dengan dunia dan masyarakat kita sendiri. Kita menjadi lebih kaya. Bahkan tidak jarang kita merasa menjadi orang yang tahu banyak mengenai sosiologi dan psikologi masyarakat dan orang Aljazair, tanpa pernah ikut kuliah kedua ilmu itu. Memang tidak benar jika dikatakan kita telah menjadi pakar sosiologi dan psikologi masyarakat Aljazair hanya dengan membaca sebuah novel, namun tidak keliru jika dikatakan bahwa kita telah memahami dan menghayati beberapa segi dunia pengalaman orang Aljazair, lengkap dengan tanggapan si sastrawan terhadapnya.
Novel Yang Tergusur, yang ditulis oleh Sally Morgan, sastrawan keturunan Aborijin di Australia, memberikan gambaran dan "uraian" yang sangat tajam mengenai perkembangan hubungan antarras dalam sejarah sosial Australia. Tokoh utama novel ini, seorang perempuan muda keturunan Aborijin, baru menyadari identitas dirinya ââ¬â yang selama ini disembunyikan oleh orang tua dan seluruh keluarganya ââ¬â setelah ia dewasa. Orang tuanya ternyata lebih merasa tenteram dan terlindung dengan membohongi dirinya sendiri sebagai keturunan India daripada mengakui sebagai pribumi, orang Aborijin. Dalam upaya mencari akar itulah perempuan muda tersebut mendapatkan pengalaman dan pengetahuan mengenai hubungan antara pribumi dan pendatang kulit putih. Dan kita yang ikut "menyaksikan" petualangannya ke dunia leluhurnya merasa banyak mengetahui berbagai segi sosiologi, antropologi, politik, dan budaya negeri itu.
Dalam buku Religion of Java, Clifford Geertz telah memberikan gambaran yang mungkin dianggap lengkap dan luas mengenai "permukaan" sebuah masyarakat Jawa di sebuah kota kecil di Jawa Timur; sementara itu di dalam Para Priyayi Umar Kayam mengungkapkan beberapa segi saja dari dunia dan pengalaman beberapa orang Jawa, namun Umar Kayam menyusup jauh ke bawah permukaannya. Dan Umar Kayam sekaligus juga menyiratkan penilaian terhadapnya. Geertz adalah seorang sarjana asing sedangkan Umar Kayam adalah seorang sastrawan kita yang berasal dari Jawa. Contoh lain menyangkut pengarang yang sama, yakni A.A. Navis. Dalam bukunya mengenai adat Minangkabau, Alam Terkembang Menjadi Guru, A.A. Navis memberikan gambaran permukaan yang luas mengenai masyarakat itu, sementara dalam cerpen "Robohnya Surau Kami" ia langsung masuk ke bawah permukaan untuk mengungkapkan inti masalah yang ada dalam kehidupan orang Minang.
Saya sama sekali tidak bermaksud mengatakan bahwa dari karya sastra kita hanya bisa mendapatkan informasi mengenai berbagai hal. Sastra memang bisa informatif, tetapi ia juga kreatif. Yang ditawarkannya tidak hanya informasi tetapi juga pengalaman estetis, pengalaman masuk ke dalam keindahan yang disalurkan lewat bahasa. Ketrampilan pengarang mempergunakan bahasanya itulah bahkan yang kadang-kadang membuat kita menganggap bahwa dunia rekaan itu lebih nyata dari dunia yang kita hidupi sehari-hari. Bahwa fiksi itu lebih nyata dari fakta. Itulah sebabnya dengan mudah kita bisa terlibat secara emosional dengan peristiwa dan tokoh rekaan yang ada dalam novel. Itulah juga sebabnya maka tidak jarang karya sastra dilarang beredar karena dianggap melakukan intervensi ke dalam kehidupan nyata, itu pula sebabnya maka "ada" kuburan Sitti Nurbaya di Padang.
Seperti yang tersirat dalam uraian terdahulu, sastra tidak hanya berurusan dengan dunia pribadi sastrawan tetapi juga, dan pada dasarnya, berurusan dengan dunia sosial, usaha manusia untuk menyesuaikan diri dalam dunia itu, dan sekaligus usahanya untuk senantiasa mengubahnya sehingga menjadi hunian yang lebih baik. Sastra adalah usaha untuk menciptakan kembali dunia sosial itu: hubungan-hubungan keluarga, politik, agama, dan sebagainya. Ia juga menggarisbawahi peranannya dalam keluarga dan lembaga-lembaga lain, mengungkapkan konflik dan ketegangan antarkelompok dan antargolongan. Seperti halnya sosiologi, sastra sebenarnya berhubungan dengan tekstur sosial, ekonomi, dan politik. Namun, setidaknya menurut keyakinan Alan Swingewood3, seorang sosiolog, sastra berbuat lebih dari itu dengan mengatasi sekedar deskripsi dan analisis obyektif dan ilmiah, dan masuk menyusup ke bawah permukaan kehidupan sosial untuk mengungkapkan cara-cara manusia menghayati masyarakatnya. Bahkan menurut seorang sosiolog lain, tanpa kesaksian sastra, pengamat masyarakat tidak akan mampu melihat sebaik-baiknya masyarakat secara utuh. Dengan kata-kata Richard Hoggart, "Without the full literary witness, the student of society will be blind to the fullness of a societyââ¬â¢s life.."4
Sehubungan dengan keinginan kita untuk terus-menerus meningkatkan taraf pergaulan kita dengan bangsa-bangsa lain, usaha untuk menerjemahkan karya sastra asing patut mendapat pujian. Dengan membaca cerita pendek Yukio Mishima yang berjudul "Sepukku," misalnya, kita tidak hanya mendapat gambaran obyektif dan ilmiah mengenai "upacara" bunuh diri dalam masyarakat Jepang, tetapi bisa menghayati bagaimana hal itu berlangsung, lengkap dengan detil perasaan dan emosi yang menggerakkannya. Penghayatan itu perlu untuk pemahaman, dan pada gilirannya pemahaman itu mutlak diperlukan bagi usaha pergaulan yang lebih baik.
Namun, tentu saja dalam usaha bergaul itu kita tidak hanya harus menerima; kita juga harus memberi. Masalahnya adalah apa yang bisa kita berikan dan bagaimana memberikannya. Kita tentu saja bisa menawarkan karya sastra kita kepada bangsa lain, sebagai salah satu usaha penting agar bangsa lain memahami dan menghayati dunia kita. Sayang bahwa tidak begitu saja sastra kita, yang ditulis dalam bahasa Indonesia .