Sabtu, 11 Januari 2014

PUISI

Sajak Pahlawan

A.langkah indahnya malam
Ketika langit bertabur bintang
Aku bercermin dalam bulan
Luapan pandangku mencariMU
Ingin  aku mengaduh
Atas limpahan nikmatMu
Besar nikmatmu tak tergantikan
Oleh seluruh apa yang ada

                        aku berada di tanah jauH.
                        merindukan belaian yang suliT
                        terpejam dalam waktu lamA
                        tak sedikitpun membuka pandangaN
                        Sekali aku dalam sempiT
                        tak lupa akan namA
                        kau yang tersimpaN
                        tinggal semata bayanG

Aku bersyukur atasMU
Sajak-saja itu tanganMU
Sajak itu penolongku
Kebaikannya tak terbalas
Hanya do’a kepunyaanku
Terpujilah kau sajakku
Terimakasih ku
Wahai...sajak pehalawanku.

Posko KKN-Pinrang, 1 Agustus 2012
Kupersembahkan untuk Pak Lurah Kelurahan Jaya A. Kaliabo

dan H. Tantang yang meminjamkan rumahnya untuk kami tinggal
Renungku
(Budi Santoso)
Inspirasi dari seorang kawan,
Kawan yang tak dapat mengeluh pada kenyataan.
Membantu BOB bersuara.

Merenunglah aku di sini
Ditemani segelas buah yang dicincang rapi
Nafasku sekali berhelak
Berharap penat ini lepas  dari ragaku
Pikiran melambung tajam
Aku tak sanggup dengan ini.

            Ketika niatku untuk mengabdi
            Mencurahkan semua isi kepalaku di tengah kerumunan
            Aku takut tak bisa bertahan
            Aku rasa tak kuat berbuat
            Aku bermimpi hilang dalam ramai
            Aku bilang BISMILLAH
            Aku melangkah

Kota Lasinrang adi puang
Suppa di ujungnya
Ramah menyambut penjuru
Gerbang kasih
Bukti pinrang kabupaten asri

            Bila Mandar Polewali
            Suppa juga Polewali
            Tapi bukan sembarang Polewali
            Tidak hanya sebagai Polewali
            Bukan hanya nama Polewali
                                    Desa yang aman dari keZaliman
Ramah dan bersahaja cermin pribadi
Ulet dan bertanggungjawab raga insani
Bersatu dan bersaudara jiwa sosial
Tampilan Ladea-Bela-belawa-Pelewali
Muhammad Sabir teladan dan hormatku

Aku mengamati 13 semut tangkai mangga
Walau berpisah ranjang dan atap
Mereka masih setia dengan tugas
Saling mengerti dan membantu dalam kebersamaan
7 betina bekerja pada rel kewanitaannya
6 jantan mengayomi dalam telapak kasarnya
Tak sedikitpun keluhan mereka terucap
Hanya senyum ikhlas terpancar

           




Malam ini langit cerah menderang
            Awan mendung menyelimutiku
            Hatiku menangis pedis sampai dalam
            Aku iri pada 13 semut tangkai mangga
            Aku rapuh dari tegapnya tekatku
            Takutku hampir terlaksana
            Rasaku setengah terbuang
           
Sobat....
Sobatku ....
Izinkan aku merangkulmu
Memohon maaf dan khilafku
Mendekap jarimu erat penuh
Menghubungkan jiwa-jiwa
Agar aku tau isi dirimu
Supaya kita dapat belajar bersama

            Ku ingin akhir pengertian
            Ku ingin semua tidak sia-sia
            Ku ingin bersama melewati waktu
            Ku ingin ikhlasmu dalam tangisku
            Ku ingin kita sehati

Ini bukan usai
Tapi mula perjumpaan kita


Posko KKN 00.39- 6 Agustus 2012


sudahlah
belum usai senja kebersamaan
kita sudah berkicau
memantulkan diri-diri
dengan wajah picing terkoak
dan lidahmu yang panjang
menjilati telinga-talinga
sehingga hanya kamulah  yang terdengar.
           
Jangan mengitung kebaikanmu
            Jangan pula keburukannya
            Jangan kau sakiti dirimu
            Dengan dengki tak berpangkal
            Jangan pula memilukkan dirinya
            Dengan pedasnya sambel buatanmu.

Sudah...sudah...sudahlah
Itu yang ingin ku ucapkan
Tapi mulut ini takut menyakiti hati sucimu
Dengan Diam caraku menangis untuk semua.

            Diriku-dirimu-dirinya-adalah satu
            Satu di pengasingan
            Satu di perantauan
            Satu di gubuk cahaya
            Satu  yang rindu wajah orang tua
            Satu yang haus ceria anak-anak
            Satu dalam kebersamaan

Cukup Dia yang tak merasa satu
Jangan satu yang tak merasa
Aku tak bisa berkata
Hanya do’alah  kupanjatkan
Untukmu wahai saudaraku


Posko KKN, 30 Juli 2012
RAHMAT

Marhaban Ya Ramadhan
Bulan suci penuh kedamaian
Taburan reski yang melimpah
Bukti kasih Tuhanmu
Bukti utusan Tuhanmu
Bukti surga dan neraka
Bukti aku padaMU

                 Kalau hati adalah suci
                 Biarkan aku mengingatMu
                 Kalau tangan ini niat
                 Biarkan giat dalam kebaikan
                 Kalau mulut adalah anugrah
                 Jangan nodai dengan fitnah
                 Kalau hidung adalah rasa
                 Biarkan aku mencicip wangiMu
                 Kalau wajah adalah Nur-cahaya
                 Janganlah Engkau redupkan
                 Kalau mata adalah dunia
                 Jangan biarkan aku ternoda
                 Kalau otak adalah rahmat
                 Biarkan aku mencariMu
                 Kalau telinga adalah asma
                 Biarkan terus terngiang
                 Kalau tangan dan kaki bersatu
                 Izinkan aku menghadapmu

Jodohku takdirMu
Lapangku kekayaanMu
Hidup dan mati keputusanMu
Fitrahku adalah Engkau

                 Wahai sang pemilik
                 Dengan bermandi purnama
                 Aku disini bersajak
                 Dengan butiran kata
                 Aku bersujud di hadapanmu
                 Syukur yang tak henti



Tanah ini negeri Bugis
Dengan Salo dari mata batu
Bendungan kokoh panen berkelanjutan
Tajam keris simbol kebijaksanaan
Dengan sipatokkong kita membangun
Dengan siparappe kita menyentuh
Berlindung dalam bentenge
Puang sawitto wija ri penrang
Maccorowalie ri laleng ati
Menuju jaya pinrang sejahtera
                 Di ujung jumpa kita
                 Izinkan aku mencium jarimu
                 Jari dari tangan yang ringan
                 Tangan-tangan Tuhan limpahkan kasih sayang
                 Terimalah kasihku Puang-Haji-Bapak-Ibu-Pemuda Jaya
                 Baktiku, dalam motivasi tujuan aku di sini.

Posko KKN Kel. Jaya Pinrang 2 Agustus 2012
Di bacakan oleh FARISAL, S.S.

pada Tausyiah&Pagelaran seni Ramadhan Jaya

PUISI

PERJALAN MAMUJU
Terkejutnya aku dari tidur yang sesaat
Boks besar beroda dan beku tak bergeming
mengejar jalan tujuan suatu tempat
Pemimpin bersenjata Rem, Gas, dan Stir
Dan dua awak membantu menjaga depan dan belakang pintu
Mereka tak menyerah seperti kami
Terkalahkan kelamnya malam
dan angan-angan yang mengusai pikiran
seperti janji-janji calon pemimpin daerah tak tau malu
bernarsis ria mengotori keindahan wajah bumi
dengan wajah -wajah plastik besar-kecil editan kepalsuan.

Kakiku ingin menampak di Bumi Lasinrang
Mengenang dan mengulang keluarga kecilku dari ibu-bapak yang berbeda
Memori KKN meluapkan isi dada
Membangkitkan haru disertai bening air mata
Terkuncinya bibir meninggalkan tamparan hati
Ku ingin kembali pada masa keluarga kecilku
Masa itu masa suci ramadhan
Doaku untuk keluarga kecilku
“semoga mereka diberikan kemudahan dan rahmat”
Tapi ini bukan tujuan.

Masih panjang perjalanan ini.
Melewati waktu setengah dari waktu sehari
Dan TUHAN tidak tidur
Dia Tau aku kangen.


Perjalan Makassar-Mamuju,

Sabtu, 15 Oktober 2011

puisi


INI BUKAN SINETRON
  bye: Budi S
 
Pilu memang pilu
Melihat Dia yang pilu
Menangis pilu
Wanita yang pilu

Pilu itu karena suaminya
Suami yang Ia bangga
Bangga karena kesetiaannya
Kesetiaan yang langka

Ia menangis pilu
Ia Tak menyangka
Suaminya lrbih memeilih lelaki itu
Suaminya mencampakkan dirinya

Ini bukan sinetron
Tapi ini sinetron kehidupan
Kuharap ini tak bersambung……..

Makassar 11-6-09 12:00

Kamis, 13 Oktober 2011

KERESAHAN DAN KEPRIHATINAN

Pergantian topeng tidak mengapus dirimu yang sebanarnya kalau bukan kau yang merubah sikap dan sistemmu.

Janaganlah menjadi katak dalam tempurung.

Dulu kau terngiang tapi sekarang kau bagai katak yang bernyanyi dalam baskom yang tertutup.
Janganlah membanggakan kura-kura tua yang telah berpesta dalam rumahnhya.

Tapi banggakanlah dirimu oleh kreatifitasmu sendiri.

Akan tetapi kita selalu terlena oleh pesta yang didongengkan oleh para Datu to Pacarita sehingga kita melayang kelangit dan menjadikannya hayalan yang pada sesungguhnya adalah kita dalam keadaan terborgol oleh diri kita sendiri sedangkan tujuan yang sebenarnya kita tidak pernah tau.

Kebodohanlah yang kita TUJU.!!?.